Teknologi Informasi dan Komunikasi bagi Desa

 

Artikel »

TRANSFORMASI KONFLIK : MEMAKNAI ICT DALAM PENDIDIKAN UNTUK PERDAMAIAN

Penulis : ADE CHANDRA Akhir-akhir ini berbagai peristiwa konflik dan kekerasan melanda masyarakat Indonesia. Anarkhisme sosial dan aksi brutal berbaris mewarnai...

 
 

Berita »

Sarasehan Refleksi 4 Tahun UU Desa di STPMD Yogyakarta: #SaveUUDesa

Yogyakarta,18 Desember 2017. Mestinya UU Desa bisa menjadi jembatan emas agar desa mandiri, demokratis dan sejahtera. Namun rupanya supra desa rak rela. Mereka tetap...

 

Model Pemberdayaan Masyarakat “Kampung Preman” Dalam Masyarakat Komunikatif Guyub Rukun

Oleh: Yuli Setyowati Masyarakat yang hidup dengan stigma “kampung preman” sering dipersepsi sebagai tipe masyarakat yang sulit berubah. Hal ini disebabkan oleh...

 

Teknologi Informasi dan Komunikasi bagi Desa

Oleh Fajarini Sulistyowati Saat ini kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sudah sangatlah cepat. Perkembangan media untuk berkomunikasi semakin canggih dan...

 

Bedah Buku Jokowinimics: Jokowi Melakukan Model Komunikasi Zaman Now, “Show me attitude”.

Buku Jokowinomics, Sebuah Paradigma Kerja dibedah di Ruang Sutopo STPMD APMD Jogja, Selasa (5/12/2017). Kegiatan ini merupakan kerjasama Harian Jogja dan STPMD “APMD”...

 

Imako Gelar Meet and Great Bersama Cut Mini dan Adipati Dolken.

 

VOA, Lembaga Berita atau Propaganda?

Program Studi Ilmu Komunikasi STPMD ‘APMD’ Yogyakarta Rabu (7/11) mengadakan kegiatan Kuliah Tamu. Tampil sebagai pembicara, direktur Voice of America (VOA)...

 
 

Oleh Fajarini Sulistyowati

Saat ini kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sudah sangatlah cepat. Perkembangan media untuk berkomunikasi semakin canggih dan berkembang. Beberapa tahun yang lalu kondisi komunikasi dan informasi di desa masih jauh tertinggal dibandingkan dengan kota-kota besar. Di era ini, kesenjangan komunikasi dan informasi sudah mulai teratasi dengan berbagai teknologi informasi yang semakin canggih.

Pada tahun 2006 di Yogyakarta terjadi gempa yang cukup besar, salah satu daerah yang terkena dampak cukup besar tersebut adalah desa-desa di Kecamatan Dlingo di Bantul. Desa-desa ini termasuk desa yang tertinggal karena gersang dan lokasinya yang jauh dari pusat kota. Desa ini lebih banyak dikenal orang karena ketertinggalannya namun kondisi ini sekarang mulai bergeser. Saat ini, desa-desa tersebut menjadi salah satu kawasan wisata favorit di DIY.

Berbagai objek wisata alam menjadi daya tarik masyarakat luas, mulai dari Hutan Pinus wilayah Pengger, Puncak Becici di desa Munthuk, kebun buah Mangunan, Hutan pinus Mangunan dan lain-lain. Mungkin masyarakat di desa-desa tersebut pun tidak membayangkan bahwa desa-desa mereka menjadi tujuan wisata hingga mantan Presiden USA Barack Obama pun dating ke desa itu.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi merupakan salah satu pemicu terpublikasinya keindahan alam yang ada di desa-desa tersebut. Dengan ini semakin berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, semakin banyak pilihan media yang dapat digunakan masyarakat desa untuk mewujudkan keberdayaannya dan membangun daerahnya dengan berjaringan akan semakin mudah. Hal ini menjadi salah satu pemicu desa-desa di atas menjadi daerah wisata yang popular. Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi memberikan dampak luar biasa terhadap penyebaran informasi. Kecepatan dan distribusi media ini dalam memproduksi informasi tidaklah terbantahkan. Beragam jenis konten yang bias diunggah, peristiwa baik berupa foto maupun film dapat disampaikan ke publik secara luas. Bahkan media ini memberikan kesempatan bagi khalayak untuk memroduksi sendiri berita dan mendistribusikan (Gilmor, 2004). Keberagaman media membuat informasi bias tersebar melalui beragam jenis baik berupa teks, audio maupun audio visual.

Namun, kehadiran teknologi komunikasi dan informasi tidaklah lepas dari kritik. Bagi sebagian masyarakat perkembangan teknologi ini memberikan dampak luar biasa dalam kehidupan perekonomian masyarakat namun bagi sebagian masyarakat yang lain hal ini juga akan menyebabkan masyarakat semakin terjerat dalam system social dan ekonomi global, (Nasir dkk: 2006, 20). Hal ini sesuai dengan pendapat Fiske (2016: xi), Fiske memandang internet hanya sebagai salah satu medan peperangan bagi terjadinya pertentangan terus menerus antara makna kenikmatan, pengetahuan dan kuasa.

Hal inilah yang menjadi pemikiran bersama bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memberikan dampak positif bagi masyarakat namun di sisi lain kehadirannyaakan memunculkan dampak negatif pada masyarakat. Untuk membendung kehadiran teknologi informasi dan komunikasi sangatlah tidak mungkin dilakukan. Hal penting yang harus dilakukan adalah mempersiapkan masyarakatnya untuk dapat menggunakan dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi.

Semakin meningkatnya pengguna internet di Indonesia dapat dilihat dari data laporan survei Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016, jumlah pengguna Internet di Indonesia telah mencapai 132.7 juta orang dari 256.2 juta orang populasi Indonesia. Ini berarti, pengguna Internet di Indonesia telah mencapai 51.8% dari jumlah penduduk Indonesia seluruhnya. Hal ini berarti teknologi informasi dan komunikasi sudah diakses lebih dari separuh jumlah penduduk Indonesia.

Literasi Media Digital

Literasi media merupakan gerakan membangun kesadaran dan kemampuan public untuk mengendalikan penggunaan media dalam memenuhi kebutuhannya, (Danarka Sasangka, 2010:33). Menurutnya lebih lanjut, gerakan literasi media sudah dilakukan di banyak negara lain yang telah mengalami kompleksitas wujud efek dalam kehidupan masyarakatnya akibat interaksi yang intens dengan media, informasi dan teknologi lanjut. Gerakan literasi ini sangat diperlukan bagi masyarakat desa agar mereka berdaya di hadapan media digital bukan hanya mampu mengkonsumsi media tersebut namun secara cerdas menggunakan media tersebut.

Kehadiran internet bagi masyarakat berdampak positif tetapi di sisi yang lain berbagai jenis informasi tersebar tanpa ada penyaringan mengakibatkan masyarakat sulit mendeteksi kebenaran informas itersebut. Berbagai berita bohong (hoaks) akan memunculkan kegelisahan bagi masyarakat apalagi bila yang menerima adalah masyarakat yang belum paham adanya berita bohong.

Masyarakat desa termasuk menjadi kelompok yang rentan terhadap berita bohong. Berita yang isinya kebohongan akan mudah memprovokasi masyarakat. Sebagai contoh, adanya kasus meninggalnya Maman Budiman di Pontianak akibat dikeroyok warga karena disangka penculik anak gara-gara kabar yang beredar di masyarakat di awal tahun 2017. Perusakan vihara di Tanjung Balai di Sumatera Utara pertengahan Juli 2016 juga disebabkan berita provokasi di media sosial, (Kompas 18 Juli 2017).

Hoaks muncul umumnya disebar menggunakan teks atau gambar yang menggiring kesimpulan pembaca untuk menyakini sesuatu. Sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi seringkali diikuti dengan kabar bohong yang beredar dengan teks dangambar yang bias jadi tidak berkaitan dengan peristiwa tersebut. Internet merupakan teknologi media dan informasi yang saat ini menjadi media baru yang banyak digunakan masyarakat sampai ke masyarakat desa. Penggunaan internet sebagai media tidaklah sulit dipelajari masyarakat namun masyarakat memahami isi informasi yang benar atau hal tersebut merupakan isu yang memprovokasi mereka bukan sesuatu yang mudah dipahami masyarakat desa. Media memprovokasi masyarakat dengan berbagai berita hoaks tanpa disadari oleh masyarakat desa.

Dampak yang lain, penggunaan teknologi internet yang dapatdiaksesuntuksemuaumur mengakibatkan berbagai risiko yang bila tidak diantisipasi akan memunculkan berbagai permasalahan baru. Misalnya, penggunaaan facebook, lyne, whastapp bagi remaja sudah memunculkan kecanduan mereka untuk terus berkomunikasi dalam dunia maya sehingga remaja semakin jarang bersosialisasi di masyarakat. Hal ini juga sudah banyak terjadi di masyarakat desa. Permainan game di internet sudah banyak diakses anak-anak desa, akibatnya anak-anak menjadi malas belajar dan kehangatan keluarga mulai tipis.

Untuk itulah kesadaran menggunakan media internet dengan cerdas perlu dibangun. Kegiatan ini dilakukan melalui berbagai pendampingan dan penyuluhan pada masyarakat desa. Kegiatan ini dilakukan secara bertahap dan melalui berbagai ruang publik yang ada di desa. Masyarakat desa perlu sejak dini disiapkan untuk menggunakan media informasi dan teknologi secara cerdas sehingga manfaat dari media ini akan berdampak untuk memandirikan desa.

Penulis adalah dosen pada Prodi Ilmu Komunikasi STPMD “APMD” Yogyakarta.

Comments are closed

Sorry, but you cannot leave a comment for this post.